10 February 2011

Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung dirancang oleh seorang arsitek asal negeri Belanda yang bernama Van Schouwenburg dengan biaya sebesar Empat ratus ribu Gulden. Museum ini kemudian diresmikan pada 16 Mei 1929, awalnya cuma digunakan sebagai laboratorium dan tempat penyimpanan hasil penyelidikan geologi dan pertambangan, selanjutnya berkembang menjadi sarana pendidikan, penyedia informasi ilmu kebumian dan tempat wisata.

Di awal perang kemerdekaan sejumlah arsip penelitian geologi di Indonesia pernah sangat dicari-cari oleh NICA, namun untungnya semua arsip tersebut berhasil diungsikan ke Bukittinggi. Tak hanya arsip, fosil tengkorak manusia purba pun berhasil diselamatkan oleh seorang pegawai museum dan sempat dibawa keluar negeri oleh seorang peneliti yang bernama Prof Dr.GHR Von Koeningswald, namun akhirnya kembali dan disimpan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Di museum ini kini banyak terdapat jenis batu-batuan, fosil binatang purba, fosil binatang laut bersel satu, diorama, peta geologis, peralatan tambang, pengeboran minyak, proses penyulingan minyak, hasil penelitian geologi, vulkanologi dan arsip ilmiah.